Maaf ----
Katanya maaf, dia tidak bisa datang.
Padahal jarak yang memisahkan rumahnya dan rumahku hanya beberapa menit.
Padahal jarak yang memisahkan rumahnya dan rumahku hanya beberapa menit.
Itu pun bisa di capai dg jalan kaki. Entah karna dia sibuk atau bagaimana. Yang pasti keterlaluan sekali kalau sampai orang pertama yang ku kirimi undangan malah tidak datang pas resepsi.
Makanya kaki menuntunku menuju halaman rumahnya, biarlah calon istriku dulu yg mengurusi dekorasi dan ketering untuk sementara, menyapa sahabat bukan dosa besar sesibuk apapun aku dengan persiapan pernikahanku sendiri,
Ku ketuk pintunya tiga kali sambil mengucap password :
"Sayang, buka pintunya~"
Ku ketuk pintunya tiga kali sambil mengucap password :
"Sayang, buka pintunya~"
Biasanya dari dalam bakal gaduh langkah kaki menuju pintu,bahkan sampai bunyi Duk, atau aduh yg terdengar.
Kali ini hening.
"Eh,kak Dimas"
Sesaat ak tergagap di hampiri Putri bungsu keluarga pratama,
Sesaat ak tergagap di hampiri Putri bungsu keluarga pratama,
tidak biasanya. siyalan agak malu juga sudah sayang-sayangan,
Mana si sulung?
Mana si sulung?
''kak Adit sakit kak,masuk aja kekamar"
Aku melenggang masuk bak rumah sendiri.maklum, intensitas menginapku lumayan sering di rumah ini.
Aku melenggang masuk bak rumah sendiri.maklum, intensitas menginapku lumayan sering di rumah ini.
Kuketuk pintu kamarnya yg terkunci.
Yah, lagi-lagi tidak biasanya akses masuk tertutup seperti ini.
Password sakti itu kembali ku ucapkan.
" Sayang buka pintunya~"
Yah, lagi-lagi tidak biasanya akses masuk tertutup seperti ini.
Password sakti itu kembali ku ucapkan.
" Sayang buka pintunya~"
Adit keluar dengan muka kusut, tubuhnya menjulang memblokir pintu,rambutnya kusut, kantong matanya sampe tiga tingkat. Suaranya serak saat berkata "pulanglah. Persiapan Pernikahanmu butuh tenaga tambahan"
Ak terkekeh pelan tersinggung, tau sekali dia kalau aku memang niat membolos.
Ak terkekeh pelan tersinggung, tau sekali dia kalau aku memang niat membolos.
Ak memang butuh ketenangan, saat dikejar deathline pekerjaan atau hatiku berat ada masalah, biasanya ak mengungsi ke sini.
Sahabatku ini memang punya jurus jitu menetralkan emosi negatif ku. Dan yeah, tidak bisa ku pungkiri kalau soal pernikahan ini sedikit banyak meresahkanku. Maklum lah. Semua tentang membina hubungan serius dan tanggung jawab selalu membuat para pria gugup.
Sahabatku ini memang punya jurus jitu menetralkan emosi negatif ku. Dan yeah, tidak bisa ku pungkiri kalau soal pernikahan ini sedikit banyak meresahkanku. Maklum lah. Semua tentang membina hubungan serius dan tanggung jawab selalu membuat para pria gugup.
Ku dorong bahu Adit untuk memudahkan akses masukku,
"minggir dong sayang,aku mau masuk"
Tapi bahu itu kokoh disana, tidak bergerak.
Tapi bahu itu kokoh disana, tidak bergerak.
Sesaat aku mulai merasa ada yang salah.
"Pulang lah,mas."
"Pulang lah,mas."
Kutatapi Adit sambil menerka-nerka masalah atau kesalahanku yang mana membuatnya terlihat jengkel padaku.
"Sayang kok jahat" candaku.
"Sayang kok jahat" candaku.
Sedetik kemudian aku di dorong keluar kamar,dengan pintu kamar berdebam keras tertutup di depanku.
"AKU BUKAN SAYANGMU DIMAS!! PULANG SANA KE ISTRIMU , JANGAN TEMUI AKU LAGI"
"AKU BUKAN SAYANGMU DIMAS!! PULANG SANA KE ISTRIMU , JANGAN TEMUI AKU LAGI"
Tidak terima di dorong layaknya pecundang,ku gedor keras kamarnya sambil berteriak mengumpat.
Kesal juga emosiku tak direspon, aku melangkah menjauh dalam amarah sampai suara Adit mencicit dari balik pintu membekukanku:
Kesal juga emosiku tak direspon, aku melangkah menjauh dalam amarah sampai suara Adit mencicit dari balik pintu membekukanku:
"Maaf, Tolong jangan datang lagi Dimas. Aku lelah dengan semua perasaan tidak berbalas ini. Maaf,pulanglah."
Maka aku pulang dengan kesadaran kosong menguap.
Katanya maaf, dia tidak bisa datang ke pernikahanku.
Katanya maaf, dia mencintaiku.
--ditulis untuk lomba cerpen bertema "maaf" , dan plot ini ga jadi gw kirim, yah...dibuang sayang.
lol.
lol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar